Ciri Anak Autis

Anak-anak berkebutuhan khusus berbeda dari anak-anak biasa dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, kemampuan komunikasi, tingkah laku sosial ataupun ciri-ciri fisik (special needs). Anak-anak dalam kategori ini misalnya anad dengan masalah pendengaran (tunarungu), penglihatan (tunanetra), masalah dalam pemeblajaran meliputi cacat menatal, autisme, cerebral palsy, masalah dalam komunikasi, penuturan dan bahasa, down syndrome, hiperaktif atau gangguan konsentrasi (attention defisi disorder), gangguan emosi, diskalkulia, disgrafia, disleksia, serta berbagai ketidakmampuan lainnya.

Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti paham. Ini berarti bahwa autisme memiliki makna keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri.

Autisme adalah kategori ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi, interaksi sosial, gangguan indriawi, pola bermain dan perilaku emosi.

Gejala autisme mulai terlihat sebelum anak-anak berumur tiga tahun. Keadaan ini akan dialami di sepanjang hidup anak-anak tersebut.

Anak autisme sering menimbulkan kekeliruan bagi pengasuhnya karena mereka kelihatan normla tetapi memperlihatkan tingkah laku dan pola perkembangan yang bebeda. Pemahaman dan tanggapan yang salah terhadap keadaan ini akan menyebabkan hambatan perkemabngan yang serius dalam semua bidang, terutama dalam bidang kemampuan sosial dan komunikasi.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Ciri Anak Autisme

Anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti autis membutuhkan cara penanganan khusus. Orang tua dan pendidik perlu informasi yang memadai bagaimana mengenal gangguan pada anak-anak sedini mungkin sekaligus bagaimana cara menanganina yang tepat. Setiap orang tua pasti memiliki harapan dan impian bahwa anknya terlahir dengan fisik dan mental yang normal, bahkan memiliki bakat yang melebihi anak lainnya.

Gambar : ciri anak autisme

Autisme merupakan suatu ganguan perkembangan yang menuunjukkan adanya sindrom periilaku yaitu : interaksi sosial dan perkembangan sosial abnormal, tidak mampu mengadakan komunikasi yang normal, minta serta aktivitasnya sangat terbatas, kaku, repetitif, dan tanpa imajinasi. Beberapa perilaku yang nampak pada anak yang mengalami gangguan autisme antara lain :

a. Dalam bidang penginderaan anak-anak ini menunjukkan respon yang tidak wajar. Ada yang tampak beigut menikmati jatuhnya sinar matahari dari balik jendela, ada yang sibuk memutar-mutar benda bulat di depannya selama berjam-jam.

b. Anak autis yang biasanya cenderung mengekplorasi lingkungannya melalui indera peraba, pengecapan dan pembauan seperti anak-anak kecil di bawah usianya. Setiap kali memegang benda, anak uatis cenderung mencium baunya terlebih dahulu.

c. Anak autis menunjukkan kurang sekali kontak mata dengan orang lain yang biasanya disertai dengan perilaku yang tidak wajar lainnya seperti tertarik dengan sinar atau benda gemerlap.

d. Beberapa anak autis bahkan tidak pernah berbicara walau mereka mengeluarkan suara-suara. Suara-suara yang dikeluarkan oleh anak autis itu tidak jelas dan biasanya berupa teriak-teriakan.

e. Anak-anak penyandang autisme tidak mampu memahami makna bahasa tubuh atau bahasa non verbal dalam komunukasi.

f. Anak autis juga kurang memahami emosi orang lain dan dapat dikatkaan dengan kurang peka atau kurang berperasaan.

g. Suka melambaikan tangan, berjalan berjingkat, goyang-goyang tubuh dengan ekspresi wajah yang aneh, badannya sangat kaku, kadnag badannya berputar-putar tanpa merasa pusing.

Untuk dapat melakukan deteksi dini, maka berikut ini secara ringkas diungkapkan mengenai indikator perilaku autistik pada anak-anak yang dapat dipergunakan pada segala usia.

Bahasa/komunikasi :
- Ekpresi wajah yang datar
- Tidak menggunakan bahasa/isyarat tubuh
- Jarang memulai komunikasi
- Tidak meniru aksi atau suara
- Bicara sdikit atau tak ada atau mungkin cukup verbal
- Mengulangi atau membeo kata-kata, kalimat-kalimat atau nyanyian
- Intonasi/ritme vokal yang aneh
- Tampak tidak mengerti arti kata
- Mengerti dan menggunakan kata secara terbatas/harafiah

Hubungan dengan orang lain :
- Tidak responsif
- Tak ada senyum sosial
- Tidak berkomunikasi dengan mata
- Kontak mata terbatas
- Tampak asyik bila dibiarkan sendiri
- Tidak melakukan permainan giliran
- Menggunakan tangan orang dewasa sebagai alat

Autisme untuk anak-anak dengan kemampuan yang lebih baik atau merupakan sindrom tersendiri. Gejala dan ciri dari asperger seringkali mirip dengan autisme. Perbandingannya adalah anak dengan asperger syndrome cenderung lebih mampu berbahasa dibandingkan mereka dengan kondisi autisme.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Ciri Anak Autis Pada Bayi

Ciri anak autis dapat dialami sejak bayi. Gangguan perkembangan pad amasa bayi dan asa kanak-kanak yang segera kelihatan sesudah kelahiran. Ciri-ciri anak autis adalah tiak responsif terhadap orang-orang lain, gangguan keterampulan verbak dan non verbal, serta aktivitas dan minat-minta sangat terbatas. Namun anak autis tidak pernah mengembangkan konsep kerja pikirannya sendiri ataupun orang lain. Mereka cenderung menganggap orang lain sebagai makhluk asing yang tidak bisa dipahami. Meskipun perkembangan perilaku autisme pada bayi dan anak-anak sudah dideksripsikan dengan cukup jelas, sampai sekarang belum ada kelemahan struktur neurologis atau perubahan genetis yang telah dikaitkan dengan kelainan itu.

Proses tumbuh kembang bayi dalam perjalannya dapat mengalami gangguan. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan perkembangan atau keterlambatan perkembangan. Gangguan perkembangan ini dapat bersifat fisik maupun psikis. Gangguan perkembangan yang bersifat fisik biasanya lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan gangguan perkembangan yang bersifat psikis.

Dalam perjalanan perkembangan anak, seorang anak dapat mengalami gangguan perkembangan yang disebut Pervasive Developmental Discorder (PDD) atau gangguan perkembangan persavif (GPP). GPP adalah suatu gangguan perkembangan pada anak terutama ketika terdapat tiga bidang perkembangan yang terganggu yaitu komunikasi, interaksi sosial dan perilaku.

a. Bahaya fisik selama masa bayi

Bahaya fisik yang umumnya terjadi pada masa bayi adalah kematian yang diakibatkan karena penyakit kronis, kecelakaan, kurangnya gizi dan SIDS. SIDS adalah kematian bayi yang terlihat sehat secara mendadak dan tidak dapat dijelaskan.

b. Bahaya fisiologis selama masa bayi

Pada masa bayi, apalagi pada tahun pertama, beberapa kebiasaan fisiologis seperti kebiasaan makan, kebiasaan tidur, dan kebiasaan pembuangan dapat menimbulkan beberapa gangguan yang bersifat fisiologis yang akan terbawa sampai usia kanak-kanak seperti gangguan makan, gangguan tidur dan gangguan dalam pembuangan kotoran.

c. Bahaya psikologis selama masa bayi

Bahaya psikologis seperit keterlambatan berbicara dasar-dasarnya juga terletak pada masa bayi. Orangtua dituntut untuk dapat memberikan stimulasi dan pembelajaran yang tepat untuk di kecil.

Ada 9 ciri-ciri yang khas yang menimbulkan risiko timbulnya autisme pada anak maupun bayi, di antaranya adalah :

1. Tidak mau tersenyum bila diajak tersenyum
2. Tidak bereaksi bila namanya dipanggil
3. Temperamen yang pasif pada umur enam bulan, diikuti dengan iritabilitas yang tinggi
4. Kecenderungan sangat terpukau pada benda tertentu
5. Interaksi sosial yang kurang
6. Ekpresi muka yang kurang hidup pada saat mendekati umur 12 bulan
7. Pada umur satu tahun anak-anak ini mulai menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa
8. Bahasa tubuhnya kurang
9. Pengeritan bahsa reseptif maupun ekspresifnya rendah

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Ciri-Ciri Anak Autis Sejak Dini

Autis sendiri merupakan kondisi di mana anak tidak berhasil membangun kontak dengan dunia luar dan salah satu cirinya memang tidak menoleh saat dipanggil. Namun tentu saja satu ciri tersebut terlalu sedikit dan dini untuk membuat penilaian. Menghadapi hal seperti ini yang diperlukan adalah kewaspadaan. Apa yang sudah ibu lakukan dengan mengamati perilaku anak sudah baik. pantau terus perkembangan anak dari hari ke hari dan seger konsultasikan hal-hal yang ditemui bila dirasa perlu.

Anak autis yang berusia 3-5 tahun memang banyak anak yang sangat aktif dan perhatiannya mudah beralih tapi sebetulnya tidak bisa disebut hiperaktif. Beberapa ciri anak yang hiperaktif antara lain, tidak dapat berkonsentrasi pada aktivitas apapun lebih dari 2 menit, gerakan tubuh biasanya sama dan berulang-ulang, mudah bereaksi terhadap segala sesuatu dan tidak memikirkan akibatnya, mudah terganggu oleh rangsangan baik yang dilihat atau didengar, mengalami kesulitan mengikuti perintah sederhana, mudah jatuh karena tersandung/menabrak benda-benda disekelilingnya/membentur tembok, mudah frustasi.

Selain ciri-ciri tersebut, ada beberapa ciri yang sangat membedakan dengan anak yang aktif, yakni perkembangan bahasa, kognitif dan motorik yang lambat. Setiap anak di dunia ini memang tidak ada yang terlahir sama, baik fisik, emosi maupun perilaku.

Hiperakivitas (gangguan pemusatan perhatian). Masalah ini memang kerap sekali kita jumpai di masyarakat, dimana anak selalu menunjukkan sifat tidak memiliki kemampuan dalam memusatkan perhatian dalam berkonsentrasi lebih dari beberapa menit dan perhatian tentunya sangat mudah teralihkan.

Sebagai contoh, anak sewaktu kita ajak bicara tidak menunjukkan konsentrasi dalam pembicaran dan anak akan selalu berpindah untuk mengalihkan atau melakukan kegiatan aktivitas lainnya. Seandainya dijumpai sifat demikian, upaya yang dapat dilakukan oleh keluarga dengan cara berkonsultasi kepada dokter atau perawat ahli tumbuh kembang yang tentunya sejak dini anak perlu dilatih dalam upaya berkonsentrasi.

Kemudian anak autis ini juga dapat terjadi pdaa anak remaja, dengan gejala sebagai berikut, gelisah, sulit ikut serta dalam kegiatan yang membutuhkan ketenangan, impulsive artinya tidak sabar dan sulit menangguhkan jawaban sebelum pertanyaan selesai, sulit menunggu giliran atau antrian serta sering menyela atau menerobos orang lain, kalau terjadi sifat demikian maka perlu dicurigai seseorang atau anak remaja terdapat masalah pada autisme atau hiperaktif.

Austime. Pada masalah ini akhir-akhir ini sering menjadi bahan diskusi dikalangan para ahli yang kompeten dalam masalah anak. Sebenarnya pada autisme itu? Perlu kita ketahui, autisme itu masuk dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan, karena terdapat beberapa hal yang membedakan anak autisme dan anak tidak autisme.

Dengan ciri anak autis, seperti anak seringkali menghindari kontak fisik, tidak mau menatap mata dengan orang lain. Jika hal demikian kita jumpai pada anak, kita harus mencurigainya bahwa ada gejala autisme. Pada anak autisme sering terjadi berbagai gangguan, seperti gangguan perilaku yang dapat ditunjukkan, adanya gerakan aneh yang diulang-ulang, seperti menggoyangkan badan ke depan dan belakang, memasukkan tangan ke dalam mulut yang berulang-ulang serta bertepuk tangan dan mencederai diri.

Kemudian terjadi gangguan interaksi sosial yang dapat ditunjukkan seperti anak sering tidak reaksi bila dipanggil, sering menyendiri, sangat tidak tertarik untuk bergaul, gangguan komunikasi yang dapat terjadi sekitar pada kasus 40-50% gangguan kognitif sekitar 75-80% dan mengalami gangguan respon terhadap perangsangan indera yang sangat kurang.

Untuk itu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan sabar memberikan pendidikan khusus pada anak, serta melatih agar anak dapat berperilaku minimial seperti anak yang sehat dan sangat kita anjurkan untuk berkonsultasi pada dokter atau perawat ahli tumbuh kembang.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Autis Pada Anak

Autis pada anak adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi, dan perilaku yang terjadi pada awal masa kanak-kanak. Istilah autis menggambarkan keadaan yang cenderung dikuasai oleh pikiran atau perilaku yang terpusat pada diri sendiri. Gejala ini didapat pada masa anak-anak berupa perilaku yang suka menyendiri (menikmati bermain seorang diri), keterlambatan perkembangan bahasa, menghafalkan sesuatu tanoa berpikir, cemas dan takut akan perubahan, kontak mata dan hubungan dengan orang lain buruk serta lebih menyukai gambar atau benda mati.

Autis pada anak berdasarkan waktu munculnya gangguan dibagi menjadi 2 yaitu (1) autis yang terjadi sejak bayi, bisa terdeteksi sekitar usia 6 bulan(2) autis regresif, biasanya untuk anak usia 1,5 -2 tahun, ditandai dengan kemunduran kembali(regresi). Kemampuan yang diperoleh menjadi hilang. Kontak mata yang tadinya sudah bagus menjadi lenyap. Jika awalnya sudah mulai bisa mengucapkan beberapa kata, hilang kemampuan  bicaranya.

Penyebab autis pada anak adalah gangguan perkembangan dan fungsi susunan saraf pusat yang menyebabkan gangguan fungsi otak, terutama pada fungsi mengendalikan pikiran, pemahaman dan komunikasi dengan orang lain. Gangguan pertumbuhan sel otak ini terjadi pada saat kehamilan 3 bulan pertama. Kira-kira 60% anak autis mempunyai IQ dibawah 50, sedangkan sebanyak 20%-nya antar 50-70 dan hanya 20% yang mempunyai IQ lebih dari 70.

Anak autis tidak mempunyai banyak masalah medis yang perlu dipertimbangkan (kecuali pednerita autis yang mengalami epilepsy), namun pada umumnya tetap mengalami penderitaan penyakit gigi dan mulut yang lebih beat, karena kondisinya yang tidak normal. Kesulitan dokter gigi dalam menghadapi penderita autis adalah sulit berkomunikasi dan berperilaku agresif.. Penanganan anak autis lebih mudah dengan bantuan tenaga kesehatan lain, orang tua, serta pembimbingnya.

Anak autis umumnya mempunyai suatu kebiasaan yang teratur dan rutin dan biasanya lebih menyukai makanan yang lunak dan manis-manis. Karena koordimasi gerakan lidah tidak teratur, sering makanannya ditahan, diemut dan tidak langsung di telan. Kebiasaan ini ditambah dengan konsumsi makanan yang manis-manis menyebabkan peningkatan kerusakan pada gigi menjadi gigi berlubang.

Anak autis harus terhindar dari bahan makanan yang mengandung gluten, kasein, dan zat tambahan makanan (food additives) seperti MSG, pewarna makanan, dan gula sintetis aspartame.  Gluten adalah protein dari tepung terigu dan hasilnya seperti seral gandum, barlei, oats, dan masakan yang dibuat dari tepung terigu seperti mie, roti, cake, kue-kue kering dan lain-lain. Sebagai bahan makanan penggangi, dapat memanfaatkan makanan tradisional. Makanan berbahan tepung beras, tepung  jagung, tepung maizena, tepung tapioca dapat menjadi alternative.

Kasein adalah protein dari susu, yang berasal dari hewan dan hasil olahannya seperti keju, susu asam mentega dan lain-lain yang tebuat dari susu.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Anak Autis

Autisme adalah suatu keadaan dimana seorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya seitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik yang sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak atau dewasa dan semua etnis.

Autisme ditandai oleh ciri-ciri utama, antara lain :

- Tidak peduli dengan lingkungan sosialnya

- Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya

- Perkembangan bicara dan bahasa tidak normal (penyakit kalinan mental pada anak =autistic-children)

- Reaksi/pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang dan tidak padan.

Gejala-gejala ini bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur, inteligensia, pengaruh pengobatan dan beberapa kebiasaan pribadi lainnya.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Ciri Ciri Autisme Pada Anak

Anak autisme mempunyai masalah atau gangguan dalam aspek berikut :

1. Komunikasi :

a. Perkembangan bahasa yang lamabat
b. Terlihat seperti memiliki masalah pendengaran dan tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh orang lain
c. Jarang berbicara
d. Sulit untuk diajak berbicara
e. Kadang bisa mengatakan sesuatu namun hanya sebentar saja
f. Perkataan yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan
g. Mengeluarkan bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang lain
h. Meniru perkataan atau pembicaraan orang lain (echolalia)
i. Dapat meniru kalimat atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya
j. Suka menarik tangan orang lain bila meminta sesuatu

2. Interaksi sosial :

a. Suka menyendiri
b. Sering menghndari kontak mata dan selalu menghindar dari pandangan muka orang lain
c. Tidak suka bermain dengan temannya dan sering menolak ajakan mereka
d. Suka memisahkan diri dan duduk memojok

3. Gangguan indra:

a. Sensitif pada sentuhan
b. Tidak suka dipegang atau dipeluk
c. Sensitif dengan bunyi yang keras
d. Suka mencium dan menjilat mainan atau benda-benda lain
e. Kurang sensitif pada rasa sakit dan kurang memiliki rasa takut

4. Pola bermain :

a. Tidak suka bermain selayaknya anak-anak usianya.
b. Tidak suka bermain dengan rekan seusianya
c. Tidak bermain mengikuti pola biasa dan suka memutar-mutar atau melempar dan menangkap kembali mainan atau apa saja yang dipegangnya.
d. Menyukai objek-objek yang berputar seperti kipas angin
e. Apabila ia menyukai suatu benda, ia akan terus memegangnya dan dibawa-bawa ke mana saja.

5. Tingkah laku :

a. Bersifat hiperaktif ataupun hipoaktif
b. Melakukan perbuatan atau gerakan yang sama berulang-ulang, seperti bergoyang-goyang, mengepak-ngepakkan tangan dan menepuk tangan, berputar-putar, merusak dsb

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Pencegahan Anak Autis Sejak Kehamilan

Secara teori, penyebab dan faktor resiko dari penderita autis masih belum jelas, maka strategi pencegahan mungkin tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam kondisi seperti ini, upaya pencegahan tampaknya hanya bertujuan agar gangguan perilaku yang terjadi tidak semakin parah dan bukan untuk mencegah terjadinya autis. Upaya pencegahan tersebut berdasarkan teori penyebab ataupun penelitian faktor resiko autis.

Pencegahan autis dapat dilakukan sedini mungkin sejak kehamilan. Untuk mencegah gangguan perkembangan sejak kehamilan, seseorang harus melihat dan mengamati penyebab dan faktor resiko terjadinya gangguan perkembangan janin sejak dalam kehamilan. Untuk mengurangi atau menghindari resiko yang bisa timbul dalam kehamilan dapat melalui beberapa cara, diantaranya :

1. Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, jika perlu berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan

2. Melakukan pemeriksaan screening secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, Herpes atau Hepatitis)

3. Periksa dan konsultasi kedokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala

4. Selalu mengikuti nasihat dan petunjuk dokter dengan baik

Bila terdapat perdarahan selama kehamilan segera periksa ke dokter kandungan. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena kelainan plasenta. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi, yang bisa mengakibatkan gangguan pada otak dan janin. Perdarahan pada awal kehamilan juga berhubungan dengan kelainan prematur atau bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir yang rendah berpotensi tinggi resiko terhadap terjadinya autis dan gangguan bahasa lainnya.

Berhati-hatilah minum obat selama kehamilan, bila perlu konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Terutama untuk obat-obatan yang diminum selama kehamilan trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide (sejenis zat yang berfungsi mengikat protein Cereblon yang dapat menyebabkan cacat embrio) pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan syaraf pusat yang mengakibatkan autis dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbicara.

Bila bayi beresiko alergi, sebaiknya ibu mulai menghindari asap rokok, debu, atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan.

Hindari makanan yang terbuat dari bahan kimiawi atau toksik lainnya selama kehamilan. Jaga kebersihan makanan, sanitasi, dan kebersihan diri serta lingkungan. Konsumsilah makanan yang bergizi baik dan dalam jumlah yang cukup. Sekaligus konsumsi vitamin dan mineral tertentu sesuai anjuran dokter secara teratur.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala dan Tanda-Tanda Anak Autis

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 International Classification of Diseases 1993 dan DSM-IV Diagnostic and Statistical Manual 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk autis infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.

Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari gangguan (1), (2), (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari gangguan (1) dan masing-masing 1 gejala dari gangguan (2) dan (3).

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minumal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :

a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai seperti kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju

b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya

c. Tidak ada empati dan tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain

d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik

2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

a. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal

b. Bila anak bisa berbicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi

c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang

d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru

3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan di ulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan

b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya

c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sebelum anak berumur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang interaksi sosial, bicara dan berbahasa, dan cara bermain yang monoton, serta kurang variatif. Kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.

Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Autisme

Dalam kamus kedokteran, autis didefinisikan sebagai keadaan introversi mental dengan perhatian yang hanya tertuju pada ego sendiri. Anak yang mengalami gangguan ini akan terlihat lebih emosional, serta di tandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Secara umum, anak yang mengalami gangguan ini akan mengalami efek pada sistem pencernaan, syaraf, dan kekebalan tubuh. Efek enzim dipeptil transferase yang berlebih dalam tubuhnya menyebabkan si anak autis tidak bisa mencerna casein (susu sapi) dan gluten (terigu). Jika tetap mengkonsumsi makanan tersebut, dapat dipastikan kadar morfin di otak yang berasal dari zat-zat tersebut meningkat, lalu anak terkesan berperilaku seperti morfinis (ketagihan obat).

Autis merupakan kelainan syaraf yang unik, karena tidak ada tes medis yang dapat membedakan diagnosis autis. EEG, X Ray, pemeriksaan darah, dan lain-lain pada umumnya normal. Diagnosisnya hanya bisa dilakukan oleh seorang profesional yang sudah terbiasa.

Jika seorang bayi mengalami autis, ketika dipanggil namanya dia tidak merespons. Bayi juga terlihat kurang menjalin hubungan mata dengan orang lain. Ketika berumur 1 tahun, ia belum bisa menunjuk. Lebih dari 1 tahun perkembangan kemampuan bahasa agak terlambat. Jika sudah bisa berbahasa, penggunaannya tidak secara produktif maupun kosa kata bagus.

Secara garis besar dia tidak memperhatikan keberadaan orang lain, mungkin juga membuat kontak dengan anak lain, tetapi tidak tahu bagaimana harus bertindak. Ketika mengikuti permainan, ia terlihat kasar, mengulang-ulang dan tampak gelisah.

Autis dirasakan oleh seseorang hingga dia beranjak dewasa. Anak yang menderita autis akan merasa sebagai orang asing di lingkungannya sendiri. Kadang dia merasa dirugikan dalam kelompok orang dan dia juga sering tidak mengerti bahasa tubuh dan petunjuk nonverbal.

Peran orangtua sangat penting dalam mencegah progresivitas gangguan yang terjadi, baik gangguan komunikasi, learning disabilities, maupun autis. Untuk itu, orangtua perlu meningkatkan pengetahuan tentang kelainan-kelainan tersebut mengingat kejadiannya yang makin meningkat. Jika sudah diketahui terjadi, orangtua perlu bekerja sama dengan terapis dan berbagai pengalaman dengan membentuk parent support group. Dan yang paling penting adalah dengan tetap menjaga keseimbangan hidup dalam keluarga.

Secara garis besar, autis adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial, dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan autis infantil. Gejala autis infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun, dan yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya interaksi tatap mata.

Posted in Ciri Anak Autis | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment